kekuranganmu dalam kacamatamu

Jika melihat keadaan di Indonesia dalam berbagai macam polemik. Menarik melihat sisi manusia dalam duniawi.

Saat ini semua merasa bahwa dirinya berkekurangan. Kekurangan tentunya bukan hanya dalam pengertian hanya dari segi keuangan, banyak kekurangan yang dirasa masing-masing manusia menurut definisi kekurangan yang diartikan sendiri…

Pembicaraan beberapa orang yang saya kenal, masih banyak keluhan-keluhan yang keluar :
” Saya sudah sekolah setinggi-tingginya tapi pekerjaan yang saya dapat tidak sesuai dengan saya ”
” Saya bekerja tapi apa yang saya dapat? ”
” Saya senang di tempat saya bekerja, tapi ada hal yang membuat saya tidak senang ”
” Saya sudah usaha tapi masih gagal ”
Tidak dipungkiri saya pun terkadang masih mengeluh untuk kehidupan saya sendiri.

Buruh / tenaga kerja
Terkadang merasa apa yang diterima ( hak ) masih sangat jauh dari yang di inginkan dengan alasan semua yang telah di berikan ( kewajiban ) sebagai pekerja kepada perusahaan tidak sesuai.
Dikatakan, para tenaga kerja / buruh telah bekerja mengikuti peraturan di tempat masing-masing mereka bekerja.
Pekerjaan mereka berat dibandingkan dengan para pekerja yang tidak bekerja di pabrik (produksi).

Saat saya melihat acara tentang “hadir pol, gaji nol ”
pada bulan November 2014, saya jadi berfikir dengan hal yang bertolak belakang dari permintaan tenaga kerja lain yang menganggap hak mereka kekurangan.

Seperti di daerah Cibitung, cikarang bekasi yang sering saya lihat para buruh / tenaga kerja dengan menyuarakan hak mereka ke Pemerintahan Indonesia masih jauh dikatakan kekurangan. Contohnya : mereka masih bisa memilik gadget dengan fitur yang sekarang, kendaraan yang mereka miliki banyak yang menggunakan motor dengan 150cc sampai 250cc.

Hal itu berbanding terbalik dengan apa yang dimiliki sebagai guru honorer yang berada di pedalaman atau tempat yang masih jauh dengan lingkungan perkotaan.
Para guru bekerja bertahun-tahun lamanya tapi mereka tetap bertahan walaupun hak yang mereka dapatkan masih banyak yang jauh dari upah minimum.

Saat para guru yang jauh berkekurangan ini memperjuangkan hak mereka, tiba-tiba kita yang selama ini menganggap hak kita masih berkekurangn terdiam. Diam seolah-olah kita tidak melihat, kita tidak mendengar, pada akhirnya kita tidak perduli.

Sekarang, masih pantaskah kita sebagai tenaga kerja / buruh yang berada dalam suatu organisasi yang mengusung pembelaan bagi para buruh merasa berkekurangan?
Masih pantaskah kita. Sebagai tenaga kerja / buruh meminta hak kita lebih lagi jika kita masih tidak sadar bahwa bagaimana dengan nasib para guru yang menerima upah dibawah upah minimum?
Jangan menjawab dengan perkataan ” salah sendiri “ atau ” itukan guru dan kami bukan guru “ atau ” makanya kami berjuang karena itu untuk mereka ( guru ) juga “

Jika kita masih mengeluh dan mengeluh, bagaimana Tuhan bisa merubah kehidupan kita dan pada ahkirnya dengan terdesaknya kehidupan kita sehari-hari membuat kita semakin melupakan bahwa Tuhan yang bisa merubah segalanya bukan kekuatan manusia dengan berdemo atau menyuarakan pendapat.
Itu sama saja kita tidak membiarkan Tuhan bekerja untuk memperbaiki apa yang salah dan memberikan bonus luar biasa kepada kita sebagai ciptaan-Nya.
Dan hal tersebut pun berlaku untuk saya dan saya pun sampai saat ini masih belajar untuk menerima Tuhan 100% bekerja dalam kehidupan saya, biarpun rasa ego sebagai manusia seringkali terasa kuat dibandingkan rasa berserah kepada-Nya.

Siapa yang tidak mau hidup menjadi berguna bagi diri sendiri?
Siapa yang tidak mau hidup menjadi berguna bagi lingkungan?
Siapa yang tidak mau hidup menjadi berguna bagi keluarga?
Siapa yang tidak mau hidup menjadi berguna bagi negara?

Tentu …., semua manusia di dunia ini mempunyai cita-cita tertinggi yaitu ” berguna “

Advertisements